“Lihatlah aku datang seperti pencuri. Berbahagialah dia, yang berjaga-jaga dan yang MEMPERHATIKAN PAKAIANNYA, SUPAYA IA JANGAN BERJALAN DENGAN TELANJANG DAN JANGAN KELIHATAN KEMALUANNYA” (Wahyu 16:15).

Ayat ini sangat penting karena mendemonstrasikan bahwa peperangan Harmagedon (Why. 16:14, 16) merupakan pergumulan hati dan pikiran orang-orang sejati. Ini bukan tentang minyak Timur Tengah atau jenis peperangan yang belum lama ini kita saksikan terjadi di belahan dunia itu. Tepat di tengah-tengah pasal yang menggambarkan tentang peperangan Harmagedon termuat panggilan terhadap umat Allah untuk tetap waspada dan setia saat zaman akhir itu semakin mendekat.

Yang paling menarik adalah keterkaitan antara teks ini dengan pekabaran kepada Jemaat Laodikia di dalam pasal 3. Kita mendapati empat kata di dalam pasal ini (“pakaian,” “telanjang,” “melihat,” dan “kemaluan”) yang muncul bersamaan dalam bagian lain di Alkitab, Wahyu 3:17, 18. Pada sejarah zaman akhir yang menentukan itu Allah mengigatkan kita kepada surat kepada Jemaat Laodikia.

Inti permasalahan Jemaat Laodikia adalah ketidaksetiaan mereka. Lain di mulut, lain di hati. Menurut ayat ini, Jemaat Laodikia telah mengenakan topeng kekayaan, namun hidup di dalam kemiskinan. Dia mengenakan pakaian yang indah, tetapi tidak dapat menyembunyikan ketelanjangannya. Dan dia mengklaim diri hidup berkecukupan, sementara pada kenyataannya melarat dan tak memiliki tempat tinggal. Itulah kondisinya.

Sekitar 30 tahun yang lalu, saya mengunjungi Gereja Riverside di New York City bersama beberapa orang teman. Gereja itu memiliki satu di antara lima orgel klasik terbesar di dunia. Saat itu saya masih menjadi organis, saya tidak pernah puas memainkannya. Organis hari itu adalah Frederick Swann. Terkenal di seluruh dunia, dia telah membuat banyak album rekaman.

Saat acara ibadah selesai, saya mengajak kawan saya itu ke mimbar untuk melihat lebih dekat orgel tersebut. Dan karena cukup banyak tahu mengenai benda itu, saya mulai menjelaskan mengenai fitur-fitur orgel itu kepada kawan saya. Sementara saya berbicara tentang orgel itu, hadirin semakin bertambah. Sungguh menyenangkan rasanya. Lalu tiba-tiba saya pun sadar bahwa orang-orang tidak memandangi saya lagi. Mereka memandang sesuatu di belakang saya. Saat berpaling saya berhadapan muka dengan muka bersama Frederick Swann sendiri. Menatap mata saya, dia berkata, “Sebaiknya engkau memastikan kebenaran kata-katamu, Nak, sebelum membuka mulut.” Lalu dia berpaling dan menjauh. Saya berharap saya bisa bersembunyi dalam sekejap mata karena malu! Hari itu saya memperoleh pelajaran yang menyakitkan tentang kejujuran.

Tuhan, tolong aku untuk menemukan rasa amanku di dalam-Mu sehingga aku bisa menjadi saksi yang benar akan hadirat-Mu dalam hidupku.