“Dan malaikat yang ketujuh menumpahkan cawannya ke angkasa. Dan dari dalam Bait Suci kedengaranlah suara yang nyaring dari tahkta itu, katanya: ‘Sudah terlaksana.’ Maka memancarlah kilat dan menderulah bunyi guruh, dan terjadilah gempa bumi yang dahsyat seperti belum pernah terjadi sejak manusia ada di atas bumi. Begitu hebatnya gempa bumi itu. Lalu terbelahlah kota besar itu menjadi tiga bagian dan runtulah kota-kota bangsa-bangsa yang mengenal Allah. Maka teringatlah Allah akan Babel yang besar itu untuk memberikan kepadanya cawan yang penuh dengan ANGGUR KEGERAMAN MURKANYA” (Wahyu 16:17-19).

Konsep Allah yang murka tidak senantiasa dapat dipahami orang-orang zaman sekarang ini. Tapi satu hal yang perlu kita camkan adalah Yohanes menulis Kitab Wahyu terutama ditujukan kepada orang-orang yang menderita saat mereka mendengar kitab tersebut. Dimasa-masa senang bahasa seperti ini mungkin kedengaran tidak pantas, tetapi dalam situasi genting pemikiran tentang seorang penegak keadilan yang mahakuasa akan kedengaran manis di telinga mereka yang teraniaya dan diperlakukan tidak adil.

Namun lebih dari ini, Allah memakai bahasa seperti ini sebagai penyemangat dalam beberapa situasi. Dia tahu bahwa kita sering ingin melakukan yang benar, tetapi kita membutuhkan dorongan agar dapat melakukannya. Konsekuensi yang negative bisa menghambat perubahan prilaku kita.

Suatu hari seorang kepala SMU menghadapi masalah tentang motivasi. Agaknya beberapa siswi berpikir sangat menyenagkan jika mereka mengulaskan lipstik ke bibir mereka lalu mendaratkan ciuman di cermin kamar mandi wanita. Bekas-bekas lipstik di cermin dirasa sangat lucu. Tapi hal ini justru menambah beban kerja petugas kebersihan, karena lipstik berbahan dasar minyak itu sulit untuk di bersihkan.

Jadi kepala sekolah membuat peraturan: Tidak diperkenankan mencium cermin di kamar mandi wanita. Tapi peraturan itu tidak menghentikan praktik memcium cermin, sekarang bukan hanya mencium cermin yang dirasakan menyenagkan, tetapi juga rasa senang di dapat bila melanggar peraturan. Lalu sang kepala sekolah memberlakukan denda, yang malah makin membuat di langgarnya peraturan itu semakin menarik. Jadi ini juga tidak efektif.

Akhirnya didapatkan ide. Saat sedang membersihkan kamar mandi wanita, kepala sekolah memanggil 10 oarang siswi paling cerewet. Dia memperlihatkan kepada mereka betapa sulitnya membersihkan noda lipstik itu. Jadi, sembari gadis-gadis itu mengawasi, dia menyuruh petugas nengelap cermi di depan mata mereka. Petugas kebersihan mencelupkan sepotong spons ke dalam aiar dan mulai mengelap cermin. Tidak perlu dikatakan lagi, dalam waktu dua sampai tiga hari bekas-bekas kecupan di cermin telah lenyap.

Tuhan, hari ini aku membutuhkan motivasi tambahan. Tolong aku untuk menerapkan prinsip konsekuensi dalam segala yang kulakukan. Semoga pilihanku berujung pada masa depan yang lebih cerah.