“Dan semua pulau hilang lenyap dan tidak ditemukan lagi gunung-gunung.dan HUJAN ES BESAR, seberat seratus pon, JATUH DARI LANGIT menimpa manusia, dan manusia menghujat Allah karena malapetaka hujan es itu, sebab malapetaka itu sangat dahsyat” (Wahyu 16: 20, 21).

Saat bencana alam terjadi, orang-orang selalu bertanya, mengapa. Biasanya tidak ada jawaban sederhana. Namun penyebab utama bencana alam adalah tindakan-tindakan yang kita pikir akan menguntungkan kita. Sesuatu yang dilakukan dengan motivasi besar bisa menimbulkan konsekuensi negative. “Yang ingin saya lakukan adalah memastikan bahwa dunia ini aman bagi bangsa Yahudi,” tulis Harry Truman saat dia bergumul untuk memutuskan apakah dia akan mengakui suatu Negara Yahudi di Palestina. Sangat prihatin dengan Holocaust, presiden Amerika itu bersimpati dengan aspirasi bangsa Yahudi untuk memiliki tanah kelahiran. Pada November 1947, dia melobi agar resolusi PBB membagi dua Palestina menjadi Negara Yahudi dan Arab, Inggris mengumumkan bahwa Negara itu akan menyerahkan otoritas atas Palestina kepada PBB pada tanggal 14 Mei 1948.

Sekretaris Negara George Marshall menentang pengakuan tersebut. Dia memperingatkan Truman bahwa Negara-negara Arab akan bersatu sebagai upaya menghancurkan bangsa Yahuhdi. Dia mengatakan kepada para pemimpin Amerika bahwa “ruang kerja kepresidenan” sedang dipertaruhkan. Namun keputusan Truman telah bulat. Pada pikul 4 sore tanggal empat belas Mei. David Ben-Gurion membacakan deklarasi kemerdekaan sepanjang 979 kata di hadapan hadirin kecil di Tel Aviv Art Museum.

“Tuhan menaruh engkau dalam rahim ibumu,” rabi kepala Israel mengatakan kepada Truman, “agar engkau bisa menjadi alat pembawa kelahiran Israel.” Dengan keputusan Truman, harapan orang Yahudi menjadi kenyataan, demikian pula ketakutan Marshall. Musuh-musuh Negara baru tersebut segara menyatakan perang, dan terus berlanjut hingga saat ini.

Tulah-tulah dizaman akhir sungguh mengerikan. Di dunia yang sempurna, Allah tidak pernah memutuskan untuk menghancurkan sebagaimana yang digambarkan di sini. Namun kini bukan dunia yang sempurna. Umat-Nya berada dalam bahaya penghancuran, dan Dia turun tangan untuk menyelamatkan mereka dari Babel zaman akhir.

Allah bisa saja menciptakan makhluk yang diprogram untuk menaati Dia, atau sepenuhnya bebas. Namun ciptaan yang bebas dapat menolak Allah dan menceburkan ciptaan itu ke dalam kesengsaraan besar. Tetapi itulah keputusan Allah, dengan segala baik buruknya. Tuhan memilih kemerdekaan, dan kita sudah tau kisah selanjutnya. Suatu hari nanti alam semesta ini akan menyaksikan betapa bijaksana keputusan-Nya.

Tuhan, teerimakasih atas kemerdekaan yang kami miliki untuk hidup dan mencintai serta memilih jalan kami sendiri. Tolong aku untuk memiliki jalan terbaik-jalan yang telah Engkau rencanakan untuk aku tempuh.