“Lalu datanglah seorang dari ketujuh malaikat, yang membawa ketujuh cawan itu dan berkata kepadaku: ‘Mari ke sini, aku akan menunjukkan kepadamu putusan atas PELACUR BESAR, yang duduk ditempat yang banyak airnya. Dengan dia raja-raja telah berbuat cabul, dan penghuni-penghuni bumi telah mabuk oleh anggur PERCABULANNYA’” (Wahyu 17: 1, 2).

Salah satu film lawas favorit saya adalah Samson and Delilah, dengan pemain-pemain Victor Mature dan Hedy Lamarr. Adegan klasik saat Lamarr merayu “Simson” untuk mengetahui rahasia kekutannya menjadi momen terbesar dalam legenda perfiliman. Di satu pihak, Anda mendapati diri Anda terpukau oleh daya tarik Delilah, tapi di lain pihak benar-benar marah karena penghianatan dan kelicikannya.

Dalam dinamika seperti ini mudah sepenuhnya menyalakan pihak wanita. Dialah perayunya. Tampaknya kekuatan Simson sedikit pun tidak berdampak pada otaknya. Di tangan Delilah, Simson begitu tak berdaya (apalagi perhatiannya teralihkan oleh Delilah sehingga ia tidak berseru kepada Allah untuk membebaskannya dari pencobaan itu). Delilah tipe tokoh wanita jahat.

Namun dinamika seperti ini tak lagi disukai dalam dunia dewasa ini, dan sebagai akibatnya Kitab Wahyu banyak dikritik. Beberapa komentar mengeluh bahwa gambaran Yohanes tentang Babel sebagai pelacur mewakili tipe seksi yang tidak lagi cocok dengan dunia sekarang ini. Mereka khawatir bahwa popularitas kitab Wahyu di dunia Kekristenan akan menyebabkan penganiayaan dan kebencian yang lebih besar terhadap kaum wanita.

Wanita-wanita dalam kitab Wahyu tampil dalam peran tipikal, namun gambaran demikian telah ada pada zaman Yohanes. Para penulis bukan Yahudi pada abad pertama seringkali menggambarkan tanah kelahiran mereka dalam istilah wanita. Mata uang serta karya-karya seni lainnya biasanya mengambarkan kota sebagai dewi bermahkotakan sungai. Jadi kitab Wahyu mengambil gambaran yang berhubungan dengan kebudayaan pada zamannya. Walaupun mungkin orang-orang barat saat ini tidak nyaman dengan bahasa seperti itu, hal ini bisa dijelaskan dengan mempertimbangkan konteksnya. Mempersalahkan Yohanes (atau Allah) karena mempergunakan konsep ini pada zaman sang nabi adalah tindakan yang tidak etis dan tidak patut.

Saat menyampaikan pekabaran Wahyu, kita harus bersedia menerima penentangan dari para pendengar modern. Allah selalu menyesuaikan Diri dengan kondisi umat-Nya. Itu berarti Kitab Wahyu memang dirancang untuk menyampaikan kebenaran pada abad pertama. Namun tidak setiap aspek dari kebenaran itu disajikan akan cocok secara budaya untuk saat ini. Namun penulisan Alkitab Allah tidak selamanya agar cocok secara logika.

Tuhan, ajar aku dan mampukan aku untuk menafsirkan mereka dengan cara-cara yang tidak akan membinggungkan orang-orang lain.