“Dalam roh aku dibawanya ke PADANG GURUN.dan aku melihat seorang PEREMPUAN DUDUK DI ATAS SEEKOR BINATANG YANG MERAH UNGU, yang penuh tertulis dengan nama-nama hujat. BINATANG ITU MEMPUNYAI TUJUH KEPALA DAN SEPULUH TANDUK” (Wahyu 17:3).

Penulis, sutradara, produser, dan para aktor, semuanya duduk menyaksikan televisi hitam putih ukuran 12 inci untuk menonton episode pertama I Love Lucy. Ketika itu tanggal 15 Oktober 1951. Ulasan yang terbit beraneka ragam. The Hollywood Reporter sangat antusias dengan pertunjukan itu. Di pihak lain, Daily Variety, mengindikasikan pertunjukkan itu perlu “dipoles” lagi sebelum bisa sukses. The New York Times berpendapat, pertunjukkan itu menjanjikan. “Mereka menyebutnya “kemenangan atas pertunjukkan yang kaku.” Tetapi saat daftar peringkat dinyatakan, I Love Lucy masuk sepuluh besar, dan enam bulan kemudian mencapai peringkat pertama. Majalah Time langsung berubah pikiran, menampilkan Lucy pada sampulnya untuk edisi Mei 1952. Keberhasilan pertunjukkan selama 50 tahun itu adalah berkat kejeniusan pemeran “Lucy,” Lucille Ball.

I Love Lucy mencatat segala jenis rekor. Lebih satu miliar orang menyaksikannya. Namun satu kontribusi terbesar pertunjukan tersebut kepada dunia hiburan adalah sesuatu terjadi sebelum acara tersebut mengudara. Di awal tahun 1950-an, kebanyakan pertunjukkan TV ditayangkan langsung dari New York City. Stasiun-stasiun di seputar negeri memutar suatu kineskop, duplikat dari pertunjukkan yang difilimkan pada layar TV, yang banyak diminati secara kualitas.

Namun Lucy dan suaminya, Desi, sedang menantikan anak pertama mereka, dan mereka tidak ingin pindah ke New York. Jadi Desi menyarankan untuk merekam pertunjukkan itu dengan sistem tiga kamera bagi penonton. Perusahaan CBS bilang biyanya terlalu mahal, jadi pasangan itu bersedia dipotong bayarannya dan sebagai imbalannya menerima hak kepemilikan film negatifnya. Dengan digunakannya sistem tiga kamera itu hingga untuk komedi saat ini, maka terciptalah pertunjukkan ulangan.

Wahyu 17:3 juga suatu pertumjukkan ulangan. Sebelumnya kita telah membaca tentang wanita di padang gurun (Why. 12:6, 13-16). Hal yang sama berlaku untuk binatang berkepala tujuh, sepuluh tanduk, dan nama-nama hujat (ayat 3, 4; Why. 134:1-6). Karakter-karakter ini juga menegaskan karakter-karakter dari Perjanjian Lama (Yeh. 23; Dan. 7; Hos. 1-4). “Apa yang ada telah ada” dan “tidak ada yang baru di bawa matahari. “Strategi Setan cendrung konsisten. Masalahnya bukanlah karena dia membuat kita terkejut, tetapi bahwa kita cendrung terjebak oleh trik yang sama berkali-kali.

Tuhan, tolong aku untuk belajar dari kesalahan rohani yang kubuat di masa lalu. Ajar aku untuk mengenali tipu daya Setan dan mampukan aku tetap setia dalamsegala hal hari ini.