“Dan perempuan itu MEMAKAI KAIN UNGU DAN KAIN KIRMIZI YANG DIHIASI DENGAN EMAS, PEERMATA dan mutiara,dan ditangannya ada suatu CAWAN EMAS penuh dengan segala kekejian dan kenajisan percabulannya. DAN PADA DAHINYA TERTULIS SUATU NAMA, suatu rahasia: ‘Babel besar, ibu dari wanita-wanita pelacur dan dari kekejian bumi’” (Wahyu 17:4, 5).

Bertahun-tahun yang lalu, saya sedang menghadiri konfrensi professional di Boston menjelang tahap-tahap akhir kehamilan istri saya. Penerbangan pulang saya ke Andrews University dijadwalkan pukul 2 siang pada hari Selasa. Pukul 6 pagi telepon bordering di kamar saya di Hotel Sheraton, Boston. Telepon itu dari istri saya. “Jon, cepat pulang, kontraksinya sudah mulai.”

Saya berpakaian dan berkemas lebih cepat dari biasanya. Bergegas saat checkout, saya mencari taxi dan melaju ke Bandara Logan. Saat tiba di meja United Airlines pukul 7 lewat sedikit, dengan terengah-engah saya mengumumkan peristiwa bahagia itu dan menanyakan apakah ada cara lain agar saya bisa tiba di rumah segera. Wanita di belakang counter tersenyum dan menempatkan saya dalam penerbangan pukul 8 ke Chicago, dengan transit selama dua jam sebelum penerbangan ke South Bend.

Tiba di Chicago pukul 9 lewat sedikit, saya menuju ke gerbang pemberangkatan dan melihat bahwa penerbangan ke South Bend dijadwalkan lepas landas 10 menit lagi. Namun gerbang tersebut kurang lebih satu mil jauhnya di tengah luasnya Bandara O’Hare. Dengan bantuan gang-gang serta jalur-jalur untuk pejalan kaki, sungguh menakjubkan saat seorang pria berlari sambil berteriak-teriak, “Istri saya akan melahirkan!” Saya menempuh jarak satu mil dalam waktu enam menit.

Bergegas menuju gerbang dengan terengah-engah saya melambai-lambaikan tiket saya dan berteriak, “Istri saya akan melahirkan! Bisakah saya terbang dengan penerbangan ini?” Pramugari melambaikan tangan mempersilakan saya masuk, sekilas menatap tiket saya segera masuk.

Saya tiba di South Bend 10 menit sebelum pukul 11 waktu Boston. Segera menuju ke telepon dan masih terengah-engah, saya menelepon istri saya. “Peringatan palsu!” katanya dengan ceria. “Itu kontraksi palsu dan berhenti beberapa jam yang lalu. “Saya menghempaskan diri ke kursi, dan memutuskan menunggu hingga koper-koper saya tiba sore itu.

Keadaan tidak selalu seperti kelihatannya! Seorang perempuan cantik berpakaian seperti imam besar Israel, pada ayat hari ini, namun penampilannya menipu. Dia adalah Babel besar, ibu para pelacur. Tidak setiap orang yang membawa nama Tuhan benar-benar melayani Dia. Kita tidak boleh menaruh kepercayaan penuh di dalam manusia serta lembaga. Firman Allah tetap menjadi pedoman paling aman bagi kita.

Tuhan, berilah aku pemahaman untuk membedakan kebenaran dan kesalahan.