“Yang penting di sini adalah akal yang mengandung hikmat: KETUJUH KEPALA ITU ADALAH TUJUH GUNUNG, yang di atasnya perempuan itu duduk, ketujuhnya adalah juga TUJUH RAJA: lima diantaranya sudah jatuh, YANG SATU ADA dan yang lain belum datang, dan jika ia datang, ia akan tinggal seketika saja. Dan binatang yang pernah ada dan yang sekarang tidak ada itu, ia sendiri adalah raja kedelapan dan namun demikian satu dari ketujuh itu dan ia menuju kepada kebinasaan” (Wahyu 17:9-11).

Kata bahasa Yunani untuk bukit dan gunung adalah sama. Jadi mungkin yang dipikirkan penulis adalah Kota Roma, yang terletak di atas tujuh bukit, sesbagai model untuk binatang ini. Di lain pihak, karena gambaran bukit-bukit ini tampil bukannya bersamaan, mungkin bukan ini maksud ayat ini. Apa pun maknanya, bukit-bukit dalam ayat hari ini melambangkan kekutan dunia dan politik yang mendukung Babel. Bilamana “raja-raja” ini mendukungnya, maka perempuan Babel ini memiliki kekuasaan besar di zaman akhir.

Silsilah binatang zaman akhir ini adalah ketujuh raja. Para komentator berusaha mengenalinya. Namun prinsip mendasar dalam pendalaman Alkitab adalah Allah menyesuaikan metode pekabarannya dengan kondisi umat-Nya. Saat seorang nabi mendapat penjelasan suatu nubuatan, Tuhan selalu menyajijkannya menurut istilah, waktu, dan tempat orang itu (Dan. 2:37-40; 7:19-25). Jadi, raja “yang satu ada” mungkin adalah Roma pada Zaman Yohanes.

Kelima raja yang “telah jatuh” mungkin adalah kerajaan-kerajaan besar dalam Perjanjian Lama: Mesir, Asyur, Babel, Persia dan Yunani. Masing-masing adalah musuh umat Allah selama beberapa waktu. “Raja yang akan datang,” dari sudut pandang Yohanes, mungkin kekuatan di masa depan yang menjadi musuh umat Allah setelah kejatuhan Romawi. Namun “raja” ketujuh ini bukanlah yang terakhir! Masih ada raja kedelapan, yang juga adalah raja ketujuh! Ayat ini menimbulkan kebingungan selama-berabad-abad. Dan mempelajari bahasa Yunaninya pun bahkan semakin membingungkan!

Tampaknya penjelasan terbaik adalah bahwa kepada ketujuh ini adalah binatang yang keluar dari dalam laut dalam Wahyu 13. Binatang itu muncul setelah zaman Yohanes dan kekaisaran Romawi (Why. 13:2) dan bangkit kembali untuk menghadapi konflik terakhir (ayat 3, 12). Jadi, “kepala kedelapan” mungkin adalah manifestasi akhir kekuatan polotik yang mendukung Babel di zaman akhir (Why. 17:3).

Tetapi mungkin tidak perlu memahami semua rinciannya. Fokus kita pada ayat hari ini adalah asal-usul suatu kekuasaan politik yang mendunia di zaman akhir. Di zaman akhir, hal itu berperan seperti kekutan sebelumnya dalam sejarah dunia. Pada zaman sekarang ini, persekutuan politik sedunia seperti itu bukanlah hal yang nyata, tetapi akan dipulihkan menjelang menghadapi peperangan Harmagedon (Why. 16:14-16). Ini menjadi tantangan terakhir sejarah dunia bagi umat Allah.

Tuhan, aku ingin setia, bahkan saat semua orang lain tidak setia.