“ Dan binatang yang pernah ada dan yang sekarang tidak ada itu, IA SENDIRI ADALAH RAJA KEDELAPAN DAN NAMUN DEMIKIAN SATU DARI KETUJUH ITU dan ia menuju kepada kebinasaan. (Wahyu 17 : 11).

Ayat hari ini merupakan teka-teki besar. Ketujuh kepala adalah tujuh gunung, lalu ada juga tujuh raja. Lalu di akhir zaman ada kepala kedelapan, yaitu satu dari ketujuh kepala, gunung, dan raja! Bukan hanya itu, semua simbol ini dapat dipersamakan dengan air di mana wanita itu duduk (Why 17 : 1)

Namun kita mendapati adanya prinsip praktis di sini. Raja-raja itu membentuk silsilah atau asal-usul binatang itu. Dia bertindak sama seperti mereka. Dia menuruti pola yang bisa kita kenali secara personal. Dosa-dosa para bapa diturunkan kepada anak-anak mereka. Kita semua cenderung mengulangi kesalahan masa lalu sejarah keluarga kita.

Sekali pernah saya memperoleh kesempatan duduk mengobrol bersama seorang psikolong ternama di pantai. Saya menanyakan wawasan apa yang dia punya yang bisa membuat hidup saya menjadi lebih baik. Setelah beberapa saat berdiskusi, kita dapat mengenali tiga perintah dalam hidup yang mengatur kehidupan saya dengan beberapa cara. Perintah-perintah itu adalah (1) kebutuhan untuk selalu tepat waktu, (2) kebutuhan untuk memperoleh keadilan dalam setiap situasi, dan (3) rasa tidak suka yang mendalam terhadap dogmatisme.

Tiga-tiganya hal yang baik. Adalah sopan bila tepat waktu dan tidak membuat orang-orang menunggu. Masalahnya, adalah bahwa saya bisa bersikap tidak baik terhadap orang-orang yang menghalang-halangi saya saat saya berusaha tepat waktu! Seringnya mereka adalah orang-orang yang paling saya kasihi, dan tidak sepatutnya mereka terinjak-injak oleh obsesi seseorang.

Bersikap adil dan membela pihak lemah, juga sifat-sifat yang baik. Masalahnya adalah saat saya beranggapan bahwa seseorang bersikap tidak adil pada saya. Walaupun saya selalu berusaha bersikap adil terhadap seseorang, saya bisa menjadi marah jika sikap saya itu tidak memperoleh balasan yang sepatutnya. Ini menimbulkan kekacauan besar seputar rumah tangga saya!

Kecuali kita bertindak tegas dengan pertolongan Allah, kita semua adalah tawanan dari aturan-aturan yang dipaksakan keadaan kepada kita di masa lalu. Jadi saya pun membuat keputusan. Saya menganggapnya sebagai kesopanan untuk tepat waktu kepada orang-orang, tetapi tudak dengan mengorbankan kesopanan terhadap keluarga dan orang-orang penting lainnya. Dan saya memutuskan untuk bersikap seadil mungkin dalam berurusan dengan orang-orang, dan sementara itu membiarkan berlalu kepedihan saat seseorang bersikap tidak adil terhadap saya. Dengan gembira saya mendapatkan kemajuan.

Tuhan, bukakan mataku terhadap kebenaran tentang diriku sendiri, tidak peduli berapa pun harganya.