“MEREKA AKAN BERPERANG MELAWAN ANAK DOMBA. Tetapi Anak Domba akan mengalahkan mereka, karena Ia adalah Tuan di atas segala tuan dan Raja di atas segala raja. MEREKA BERSAMA-SAMA DENGAN DIA JUGA AKAN MENANG, YAITU MEREKA YANG TERPANGGIL, YANG TELAH DIPILIH DAN YANG SETIA”(Wahyu 17:14).

Belum lama berselang, Hollywood menyoroti realita sosial berupa sejenis unit militer sebagai “sekelompok saudara.” Mengapa serdadu-serdadu tidak lagi menyelamatkan nyawa mereka di tengah panasnya pertempuran? Biasanya dikarenakan rasa tanggung jawab terhadap rekan-rekan satu unit mereka yang mungkin lebih akrab dibanding keluarga mereka sendiri.

Kawan-kawan saya, Ed Dickerson dan Bill Underwood, mengembangkan ide bahwa persahabatan di bangun dalam tujuh tahap. Tahap pertama, orang-orang saling bertukar salam dan komentar tentang cuaca. Tahap kedua, orang-orang saling bertukar fakta dan laporan. Saat sahabat-sahabat beralih pada tahap ketiga, mereka saling berbagi opini dan penilaian. Sahabat-sahabat mencapai tahapan keempat, saat mereka bersedia mengkomunikasikan perasan-perasaan dan kenyataan. Pada tahap kelima, orang-orang mulai saling berbagi kegagalan dan kesalahan-kesalahan mereka satu sama lain. Dalam tahap keenam, tingkat kepercayaan telah begitu tinggi sehingga yang seorang memberikan hak kepada pihak lain. Tahap ketujuh adalah terjadi keintiman total, sesuatu yang jarang sekali terjadi di bumi ini.

Setelah menggaris bawahi ketujuh tahap persahabatan itu, Ed suka bertanya, “Jika kita menerapkannya pada hubungan kita dengan Allah, pada tahap berapa pertobatan terjadi?” Ed yakin bahwa hal itu terjadi pada tahap kelima dalam hubungan kita dengan Allah, di mana kita bersedia mengakui kesalahan-kesalahan kita kepada Dia, yang biasanya kita namakan pertobatan. Ed lalu menekankan bahwa banyak jemaat tampaknya mentok pada tahap ketiga dalam hubungan kemanusian, pertukaran opini dan penilaian. Jika demikian halnya, rata-rata orang Kristen tampaknya memiliki hubungan yang lebih akrab dengan Allah dari pada dengan orang-orang Kristen lain.

Namun itu menciptakan masalah menurut Alkitab, seorang tidak dapat memiliki hubungan intim dengan Allah lebih dari pada dengan sesama orang Kristen! “Jikalau seorang berkata: ‘Aku mengasihi Allah,’ dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya” (1 Yoh. 4:20). Saat kita tidak bisa mengatakan “aku bersalah” kepada sesamanya manusia, pengakuan dosa kita kepada Allah patut dipertanyakan.

Saat peperangan terakhir sejarah bumi semakin mendekat, Allah mengundang kepada jemaat untuk sungguh-sungguh menjadi “kelompok saudara dan saudari.” Mereka yang senantiasa bersama-sama Yesus akan memiliki hubungan yang intim, bukan hanya dengan Dia, tetapi juga satu sama lain.

Tuhan, tolong aku agar mengasihi sesamaku, terlebih mengasihi engkau.