“MEREKA AKAN BERPERANG MELAWAN ANAK DOMBA. Tetapi Anak Domba akan mengalahkan mereka, karena Ia adalah Tuan di atas segala tuan dan Raja di atas segala raja. MEREKA BERSAMA-SAMA DENGAN DIA JUGA AKAN MENANG, YAITU MEREKA YANG TERPANGGIL, YANG TELAH DIPILIH DAN YANG SETIA”(Wahyu 17:14).

Budaya Amerika asli sangat menekankan pada dogeng, sama seperti budaya Ibrani yang kita dapati dalam Perjanjian Lama. Tua-tua suku meneruskan kisah-kisah para leluhur yang mereka dengar dari orangtua dan kakek nenek mereka. Dan para kakek nenek itu juga mengetahui kisah yang sama dari orangtua dan kakek nenek mereka.

Suatu ketika, sekelompok anak menghampiri seorang tetua suku. Seperti yang dilakukan kebanyakan anak , mereka memohon agar dia menceritakan sesbuah kisah. Dia menceritakan suatu kisah yang menggambarkan peperangan sebagaimana dalam ayat kita hari ini.

Menurut legenda suku tersebut, pada saat kelahiran seseorang menerima dua serigala yang berdiam dalam diri mereka. Dua ekor serigala tumbuh di dalam diri setiap anak dan mempengaruhi perilaku manusia sepanjang kehidupannya. Serigala yang satu adalah sumber segala kejahatan dalam hidup. Dia menyebabkan prilaku tak ramah, suka menyakiti, suka menipu, penuh kebencian, dan kejam. Serigala yang satu lagi menyebabkan tindakan penuh kebaikan, kebenaran, kasih, dan belas kasihan. Kedua serigala itu selalu bersarang di dalam diri seseorang, dan perilaku seseorang mencerminkan serigala yang menang hari itu.

Anak-anak yang terpana dengan cerita itu, bertanya, “Mana dari kedua serigala itu yang menang?” Tetua yang bijaksana itu berhenti sejenak, lalu menjawab, “Yang selalu kauberi makan.”

Peparangan yang di gambarkan dalam Wahyyu 17:14 adalah konflik global zaman akhir yang dinamakan Harmagedon dalam Wahyu 16:16. Peperangan itu akan melibatkan setiap bangsa di bumi serta setiap kekuatan ekonomi dan keagamaan. Namun peperangan itu juga memiliki dimensi pribadi. Perjanjian Baru senang menggambarkan peperangan pribadi melawan dosa dan Setan dalam istilah militer (lihat Ef. 6:10-17). Dalam Perjanjian Baru, “peperangan kita bukanlah melawan darah dan daging “ (2 Kor. 10:4). Senjata-senjata duniawi, sseperti senjata dan tank, merobek-robek Anda hingga hancur. Namun peperangan rohani berbeda. Itu adalah “mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun untuk keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus” (2 Kor. 10: 4, 5).

Peperangan sedang berkobar dalam diri kita masing-masing. Dan bagian kita dalam konflik ini sangat nyata. Pertanyaannya adalah, “Kauberi makan apakah pikiranmu?”

Tuhan, aku menundukkan pilihanku kepada-Mu pada hari ini.