“Lihat ia berkata kepadaku: ‘Semua air yang telah kaulihat, di mana wanita pelacur itu duduk, adalah bangsa-bangsa dan rakyat banyak dan kaum dan bahasa. Dan kesepuluh tanduk yang telah kaulihat itu serta binatang itu akan membenci pelacur itu dan MEREKA AKAN MEMBUAT DIA MENJADI SUNYI DAN TELANJANG, DAN MEREKA AKAN MEMAKAN DAGINGNYA DAN MEMBAKARNYA DENGAN API” (Wahyu 17:15, 16).

Ayat seperti ini sungguh merisaukan banyak pembaca Kitab Wahyu, dan dapat dimengerti. Seorang wanita menerima perlakuan kejam, dimakan hidup-hidup, dan ditinggalkan dalam keadaan telanjang dan sendirian. Kedengaran seperti kekejamamn besar bagi kita yang hidup di zaman sekarang ini. Walaupun Babel di sini brutal dan kejam, apakah dibenarkan penggunaan gambaran kejam seperti itu di sebuah kitab dalam Alkitab?

Tapi mungkin kita belum melihat gambaran keseluruhan ayat ini. Saya diingatkan sebuah lembaga bisnis Philadelphia yang memasang papan tanda yang memalukan : “ Kami lebih memilih berbisnis dengan seribu teroris dari pada dengan seorang Yahudi ”. Nah, Philadelphia adalah kota yang ramah dan penduduknya peka (termasuk banyak orang Yahudi). Anda pikir bahwa orang banyak orang memprotes papan tanda itu. Saya mengira gubernur Pennsylvania National Guard kalau-kalau terjadi kerusuhan. Ternyata, tidak seorang pun memprotes papan tanda tersebut, tidak juga para komunitas Yahudi! Apakah yang sedang terjadi?

Anda harus melihat papan tanda itu dalam konteks yang lebih luas. Lembaga bisnis itu adalah Rumah Duka Goldberg. Jika ada yang mesti marah, itu adalah para teroris, dan mereka tidak mengatakan sepatah kata pun! Papan tanda itu bukanlah ungkapan permusuhan terhadap orang-orang Yahudi, sebaliknya, ucapan selamat agar orang-orang Yahudi berumur panjang.

Kekejaman di dalam kitab Wahyu juga adalah masalah konteks. Sepintas kelihatannya Allah mengalahkan kejahatan, menggunakan kekuatan yang brutal dan kejam seperti yang dilakukan Babel. Apa itu berarti, Dia berhak karena Dia punya kekuatan? Pelaksana kuasa Allah adalah Anak Domba (Why 17:14,17) yang telah disembelih ( Why 5:6 ). Kekerasan dengan nama Yesus menaklukkan Babel adalah kekerasan yang telah dilakukan terhadap diri-Nya.

Meskipun gambaran peperangan muncul di dalam kitab Wahyu, Allah tidak pernah memanggil umat-Nya menggunakan kekerasan demi nama-Nya. Sebaliknya, mereka dipanggil untuk menderita seperti halnya Anak Domba, menang bukan dengan pedang, tetapi dengan perkataan kesaksian mereka(Why 12:11). Pada akhirnya, kekerasan yang dilakukan Babel berujung pada kehancuran mereka sendiri (Why 13: 10;18:5-7). Namun pengorbanan Anak Domba dan pengikut-pengikut-Nya berujung pada dunia yang tanpa kekerasan sama sekali (Why 21: 4).

Tuhan, aku takjub saat merenungkan jalan pengorbanan yang Engkau tempuh untuk mengakhiri kebencian dan kekerasan di alam semesta.